
Oleh: Afif Rayhan
Di antara bangunan tua nan agung di jantung kota Kairo, terjulang Masjid dan Universitas Al-Azhar sebagai simbol keilmuan Islam yang tak tertandingi. Di dalamnya, berkumpul para penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia. Mereka menggelar sajadah ilmu di bawah tiang-tiang marmer yang sunyi, melafalkan ilmu nahu, ilmu saraf, ilmu fikih, ilmu tafsir, dan ilmu kalam, dengan semangat yang mengalahkan kantuk dan letih.
Namun, tidak semua yang berada di dalam Masjid Al-Azhar datang untuk belajar. Ada juga yang datang untuk mengabdi dalam diam. Salah satunya adalah seorang lelaki paruh baya tak dikenal namanya, tak disebut dalam daftar ulama, tak memiliki sorban atau pena, ia hanyalah pekerja malam. Setiap malam, ia datang dengan botol minyak di tangannya, menyusuri lorong-lorong masjid, dan menyalakan lampu-lampu gantung serta pelita-pelita kecil di dekat para pelajar.
Dia adalah penjaga cahaya. Ironisnya, ia sendiri hidup dalam kegelapan dan ke-jahil-an. Ia tidak tahu huruf, tidak memahami apa yang dibaca oleh para penuntut ilmu, tidak juga mengenal satu pun dari kitab-kitab yang mereka telaah dengan semangat. Namun ia tidak pernah mengeluh. Ia mencintai masjid itu, mencintai para pelajar, serta mencintai tugas kecilnya yang dianggap remeh oleh manusia, namun besar di sisi Allah.
Pada suatu malam musim dingin, ketika pelajar-pelajar Al-Azhar membungkus tubuh mereka dengan kain-kain tebal dan jari-jari mereka gemetar menggenggam pena, lelaki itu menjalankan tugasnya seperti biasa. Ia berjalan pelan membawa minyak, menuangkannya perlahan ke dalam pelita agar api tak padam. Namun malam itu terjadi sesuatu yang mengubah jalan hidupnya. Saat ia sedang menuangkan minyak di dekat seorang pemuda pelajar yang tengah membaca buku tulisnya yang sangat berharga, susah payah ia merangkum pelajarannya, tangannya sedikit gemetar. Setetes minyak pun jatuh, tidak ke lantai, melainkan ke lembaran buku tersebut.
Seketika, sang pelajar bangkit, matanya menyala, wajahnya merah padam. Kitab itu yang telah ia salin sendiri, ternoda oleh beberapa tetes minyak.
“Apa yang kau lakukan, wahai orang bodoh?!” bentaknya lantang.
“Apakah kau tahu berapa nilai buku ini? Lebih berharga dari hidupmu! Kau ini tidak tahu apa-apa, selain menyalakan lampu! Otakmu pun mungkin berisi minyak, bukan akal!”
Lelaki itu berdiri terpaku. Di usia setengah yang hampir setengah abad, tak pernah ia dihina seperti itu. Kata-kata “bodoh… bodoh!” itu menggema dalam benaknya lebih keras dari suara api yang berdesis dalam lampu.Ia tidak membalas. Tidak berkata apa-apa. Ia hanya memungut botol minyaknya dan berjalan menjauh. Tapi untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang bangkit di dalam dadanya, bukan bara, tetapi cahaya yang mulai menyala dari luka.
Malam itu, lelaki itu tidak bisa tidur. Ia duduk bersandar pada tiang masjid, merenung dalam gelap. Ia merasa malu, terhina, tetapi bukan kepada manusia, ia malu kepada Allah. Bagaimana mungkin ia berada di tengah lautan ilmu, tapi tidak meminum setetes pun darinya? Bagaimana mungkin ia telah bertahun-tahun menghidupkan lampu bagi para pencari ilmu, namun dirinya sendiri tidak mengenal satu huruf pun?
“Apakah aku bodoh? Ataukah aku hanya belum belajar?” bisiknya dalam hati.
Keesokan harinya, dengan langkah pelan dan penuh kerendahan hati, ia mendatangi seorang syekh tua yang dikenal bijaksana. Ia duduk di hadapannya, menundukkan pandangan dan berkata, “Wahai Syaikh, aku ingin belajar. Meskipun aku sudah tua, meskipun aku tidak tahu apa-apa.”
Sang syekh memandangnya lama, lalu tersenyum penuh kasih.
“Wahai anakku, tidak ada waktu yang salah untuk mulai. Orang yang memulai hari ini lebih baik dari yang tidak pernah memulai. Ilmu Allah lebih luas dari lautan, dan ia tak pernah menolak siapa pun yang datang dengan hati yang tulus.”
Sejak hari itu, hidup sang penjaga lampu berubah.
Ia belajar dengan semangat yang membakar. Ia menulis dengan tangan yang dahulu membawa minyak. Ia membaca dengan mata yang dulu hanya mengenal gelap dan cahaya lampu. Ia belajar huruf, lalu kalimat, lalu syair, lalu ilmu Nahu. Ia menghafal, mencatat, bertanya, dan bersujud di malam hari memohon kepada Allah agar diberikan pemahaman.
Waktunya kini dibagi antara dua hal, menyalakan lampu dan menyalakan pikirannya.
Dan tahun demi tahun berlalu. Lelaki itu bukan lagi penjaga lampu. Ia kini adalah penjaga ilmu. Namanya pun kini dikenal. Ia adalah Syekh Khalid al-Azhari, seorang ulama besar dalam ilmu tata bahasa Arab, pengarang syarh yang sangat berpengaruh untuk kitab al-Ajurrumiyyah, yang masih diajarkan hingga hari ini.
Hikmah Celaan: Dari Luka Menjadi Cahaya
Kisah ini menyimpan pelajaran yang sangat dalam. Terkadang, Allah mengizinkan kita terluka oleh lisan manusia bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk membangunkan jiwa kita yang tertidur. Celaan itu pedih, tapi ia adalah tamparan kasih sayang jika disambut dengan keinsafan.
“Kamu bodoh” bisa jadi adalah hinaan, tapi bagi yang berakal, itu bisa menjadi panggilan langit: “Wahai jiwa, bangunlah! Belajarlah! Engkau diciptakan untuk lebih dari sekadar menjadi pelayan lampu.”
Karena yang hina bukanlah orang yang belum tahu,tetapi yang hina adalah orang yang menolak untuk belajar. Dan seringkali, orang yang paling terhina hari ini, akan menjadi yang paling mulia esok hari bukan karena tidak pernah jatuh, tapi karena ia memilih untuk bangkit.



